September 19, 2018

Puitis dan Deskriptif

Saya masih ingat rasanya sendiri selama hampir 4 tahun tanpa memiliki pasangan. Sejak di awal tahun 2013 terakhir melakukan aktivitas "pacaran", saya belajar sesuatu untuk lebih berhati-hati dalam menjalani hubungan. Just to be clear, maksud saya berhati-hati bukan dalam rangka mengantisipasi suatu hal yang salah pada pasangan kita, melainkan untuk terlebih dahulu mempertimbangkan kesiapan diri saya. Mungkin Allah masih mengarahkan saya untuk belajar banyak hal lainnya.

Saya selalu berpikir bahwa cinta itu datang dengan instan, menggebu-gebu, dan tanpa izin. Ibarat seseorang yang tanpa alasan logis dapat tiba-tiba mengalami candu terhadap orang lain. Saya masih tetap bertahan dengan pandangan tersebut hingga beberapa tahun ke depannya. Hingga akhirnya saya mengalami sendiri perasaan cinta.

Saya sempat berpikir rasanya seperti kembang api warna warni, timbul keinginan untuk hidup bersama seseorang sehidup dan semati. Ternyata tidak se-lebay yang saya pikirkan, justru sangat sederhana yaitu hanya dilandasi keyakinan.

Kembali ke kali pertama saya bertukar pikiran dengan istri saya. Sejak hari itu, ada keyakinan dalam diri saya untuk mengenal wanita ini lebih jauh, untuk bertukar pikiran lebih dalam, dan untuk akhirnya mengajak hidup bersama. Keyakinan yang berbeda dari yang selama ini ada, keyakinan yang makin kuat setiap harinya. Jika ditanya apakah di detik itu saya sudah cinta, saya tidak tahu sejujurnya. Tapi hal itu bukan masalah karena keyakinan itu terasa nyata.

Keyakinan itu mungkin merupakan petunjuk dari Allah untuk saya untuk lebih serius dengan wanita ini. Mengingat saya tipe pria yang menuruti hati nurani, jadi saya fokus mengusahakan hubungan ini untuk dapat dijalani. Tiga minggu berikutnya setelah terjadinya pertukaran pikiran pertama kali, saya menyatakan intensi saya untuk melangkah ke arah pernikahan serta meluapkan isi hati. Saya menyampaikan hal tersebut dalam rangka memperjelas posisi, dilandasi atas niatan suci. Hal tersebut memang perlu, mengingat seorang wanita butuh sesuatu yang pasti.

Beberapa minggu setelahnya saya bertemu dan menyampaikan maksud kepada orang tua istri saya. Dilanjutkan dengan prosesi lamaran 3 bulan berikutnya, dan pernikahan 6 bulan setelahnya.

Dan sejak hari pertama ijab kabul barulah cinta saya rasakan. Cinta yang selama ini saya pertanyakan, makin hari makin jelas dirasakan. Terpupuk hari demi hari dari proses menjalani rumah tangga berdua, sharing pemikiran dan pandangan berdua, berbagi peran berdua, hingga saat ini kami mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua juga berdua.

Keyakinan memang datang begitu saja yang saya rasakan, tanpa angin dan tanpa hujan, benar-benar bersifat instan. Tapi cinta, yang jauh lebih dalam dan menyenangkan, setiap hari tumbuh di tengah-tengah ikatan suci berupa pernikahan.

Personal note:
Ya intinya di atas lagi coba buat tulisan yang puitis dan deksriptif. Ingin berniat lebih rajin menulis, karena saya pribadi males kalau cuman nongol di instragram pake bahasa-bahasa romantis. Kalau tulisan bisa jadi karya yang lebih manis.
Untuk lembaran berikutnya, mungkin saya mau coba menjelaskan kehidupan rumah tangga. Peran seorang suami dan istri yang hidup bersama. Pandangan-pandangan langka untuk diceritakan kepada pembaca. Meskipun ga terlalu banyak yang baca, ya gapapa, siapa tau tetap bisa memberikan makna. Salam hangat dan selamat bekerja!

June 07, 2018

More Valuable

We have been taught a lot about giving charity (if you are moslem you would know the 2,5% formula, our income every months that should be allocated to someone in need). And by charity i meant money.

My Dad recently just taught me something similar, but so much more interesting. A social charity, not by giving money but giving something more intangible such as time, energy, effort, ideas, and so on. Something that most people avoid. They are actually being more rational because social charity would actually consume our resource much more than giving money.

Exhibit A:
A family member who has willingness to be the coordinator of family gathering, he has lots on his plate but takes it anyway. That is social charity.

Exhibit B:
An lower level employee who thinks effortly to find a solution in the middle of meeting, where he could actually sit and stay silent waiting until the end of session. That is social charity.

Exhibit C:
A daughter who drives a car to take her mother out of city just to make sure everything is fine and her mother is safe and sound. That is social charity.

Exhibit D:
A guy who who concentrate to listen to his other friend’s problem and be emphatic although he really want to go home and read his book. That is social charity.

Conclusion:
Giving money as a charity is great, but i believe that giving those above mentioned intangible things are way more valuable.

May 25, 2018

Something Real

Having a blog turns out good. It feels like having an album of your thought through life phases. I'm now 25 (still young) and what I mostly think right now is not all those deep/philosophical/inspiring things.

I'd now rather think about how I lead my little family, how to pay all my liabilities, how to make sustainable system in our apartment with my wife, how to understand all the must-learn stuff in office, and so on.

It is not a transformation into a robotic human, it is just something real a man have to deal with. We all will get there at some point.

I wonder what I would mostly think 5 years from now.