October 28, 2018

Ilmu Hukum merupakan Ilmu yang Sederhana

Saat S1 dahulu, saya mengambil jurusan hukum sebagai pilihan nomor 2. Keinginan untuk masuk jurusan ilmu ekonomi kandas saat pengumuman SIMAK UI pada tahun 2010 dulu. Tanpa ada rasa penyesalan karena gagal diterima di jurusan ilmu ekonomi, petualangan untuk belajar ilmu hukum pun saya mulai.

Empat tahun belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saya pun lulus pada tahun 2014. Saya melanjutkan petualangan saya saat bekerja di Otoritas Jasa Keuangan sejak tahun 2015. Dan disana saya baru menemukan satu hal yang sangat menarik.

Disini saya belajar ilmu yang spesifik mengenai lembaga jasa keuangan, berkaitan dengan seluruh aspek ekonomi, kesehatan dari suatu lembaga jasa keuangan, pos-pos di neraca laporan keuangan, aspek prudensial, dan hal-hal tabu lainnya bagi seorang sarjana hukum. Tugas utama saya adalah menyusun ketentuan yang berlaku bagi industri, sebagai seorang regulator.

Pertanyaan berikutnya: apakah ilmu hukum saya terpakai? Tentu. Saya dapat menganalisis segala hal yang saya pelajari dari aspek hukum, dengan menggunakan logika. Tapi apakah terdapat kesamaan dari apa yang saya kerjakan dengan kuliah yang saya jalani dulu? Tidak. Sama sekali tidak. Saya mempelajari suatu hal yang baru. Suatu hal yang bersifat teknis, berkaitan dengan aspek mikroprudensial (yang saya baru dengar istilahnya setelah memulai pekerjaan ini). Apakah sulit? Hal tersebut dapat dimengerti (akhirnya). Namun bagi seorang sarjana hukum yang tidak pernah mempelajarinya sama sekali di bangku kuliah, bagi saya hal tersebut merupakan tantangan tersendiri.

Hampir empat tahun saya bekerja di sini sekarang, dan saya mulai berkenalan dengan cabang ilmu lain, seperti ekonomi, metematika, statistik, dan lainnya. Bagi saya semua terasa "menantang", bukan "nyaman" sebagaimana saya belajar hukum dulu. Dari situ lah saya mendapatkan kesimpulan.

Ternyata ilmu hukum merupakan ilmu yang sederhana. Tidak serumit ilmu-ilmu lainnya. Konsep hukum dapat dimengerti siapapun tanpa harus kuliah di jurusan ilmu hukum. Semua berita di media pasti berkaitan dengan hukum yang berlaku di masyarakat. Semua lapisan di negara ini menggunakan hukum sebagai "tools" dalam menjalankan fungsi masing-masing. Di jurusan hukum, kita tidak belajar mengenai model, integral, pola distribusi, rumus kecukupan modal, kualitas aset, laba rugi, pencadangan yang harus dibentuk secara matematis, inflasi, dan segala hal lainnya. Tidak pula ada komposisi zat-zat kimia, kandungan batuan, atau rata permukaan tanah. Compared to what we learned in law school, menurut saya pribadi hal-hal di luar sana itu bisa jadi jauh lebih memusingkan.

The only one reason I think why law is something big in our society, is because it has the biggest impact among all other things. Seseorang dapat dianggap benar atau salah berdasarkan apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Seseorang dapat untung atau rugi besar berdasarkan transaksi yang didasari atas perjanjian tertulis. Hak dan kewajiban seseorang akan terjamin hanya apabila ada perlindungan hukum. Berjalannya seluruh sistem dalam negara ini hanya dapat dijalankan apabila sudah ada peraturan perundang-undangan yang mengatur. Terutama Indonesia yang merupakan negara hukum berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945. Jadi memang, sebagai sarjana hukum, kita dilarang keras untuk "sotoy" dan sembrono dalam mengambil keputusan serta mengusulkan sesuatu. Pandangan orang-orang ke sarjana hukum akan selalu berbeda. Opini kita akan menjadi penentu utama dalam pengambilan kebijakan di berbagai instansi masyarakat.

Jadi, berbahagialah kita yang kuliah di jurusan hukum. Tidak perlu terlalu lelah belajar, praktikum, berhitung hingga kesemutan, menghafal seluruh nama tulang syaraf dan lain-lain. Kita cukup pahami the big picture of our law system in this country, dan mengaplikasikan pola pikir yang sudah kita dapatkan di kuliah saat bekerja di dunia nyata. Remember that we have the key, better to use it wisely.

September 19, 2018

Puitis dan Deskriptif

Saya masih ingat rasanya sendiri selama hampir 4 tahun tanpa memiliki pasangan. Sejak di awal tahun 2013 terakhir melakukan aktivitas "pacaran", saya belajar sesuatu untuk lebih berhati-hati dalam menjalani hubungan. Just to be clear, maksud saya berhati-hati bukan dalam rangka mengantisipasi suatu hal yang salah pada pasangan kita, melainkan untuk terlebih dahulu mempertimbangkan kesiapan diri saya. Mungkin Allah masih mengarahkan saya untuk belajar banyak hal lainnya.

Saya selalu berpikir bahwa cinta itu datang dengan instan, menggebu-gebu, dan tanpa izin. Ibarat seseorang yang tanpa alasan logis dapat tiba-tiba mengalami candu terhadap orang lain. Saya masih tetap bertahan dengan pandangan tersebut hingga beberapa tahun ke depannya. Hingga akhirnya saya mengalami sendiri perasaan cinta.

Saya sempat berpikir rasanya seperti kembang api warna warni, timbul keinginan untuk hidup bersama seseorang sehidup dan semati. Ternyata tidak se-lebay yang saya pikirkan, justru sangat sederhana yaitu hanya dilandasi keyakinan.

Kembali ke kali pertama saya bertukar pikiran dengan istri saya. Sejak hari itu, ada keyakinan dalam diri saya untuk mengenal wanita ini lebih jauh, untuk bertukar pikiran lebih dalam, dan untuk akhirnya mengajak hidup bersama. Keyakinan yang berbeda dari yang selama ini ada, keyakinan yang makin kuat setiap harinya. Jika ditanya apakah di detik itu saya sudah cinta, saya tidak tahu sejujurnya. Tapi hal itu bukan masalah karena keyakinan itu terasa nyata.

Keyakinan itu mungkin merupakan petunjuk dari Allah untuk saya untuk lebih serius dengan wanita ini. Mengingat saya tipe pria yang menuruti hati nurani, jadi saya fokus mengusahakan hubungan ini untuk dapat dijalani. Tiga minggu berikutnya setelah terjadinya pertukaran pikiran pertama kali, saya menyatakan intensi saya untuk melangkah ke arah pernikahan serta meluapkan isi hati. Saya menyampaikan hal tersebut dalam rangka memperjelas posisi, dilandasi atas niatan suci. Hal tersebut memang perlu, mengingat seorang wanita butuh sesuatu yang pasti.

Beberapa minggu setelahnya saya bertemu dan menyampaikan maksud kepada orang tua istri saya. Dilanjutkan dengan prosesi lamaran 3 bulan berikutnya, dan pernikahan 6 bulan setelahnya.

Dan sejak hari pertama ijab kabul barulah cinta saya rasakan. Cinta yang selama ini saya pertanyakan, makin hari makin jelas dirasakan. Terpupuk hari demi hari dari proses menjalani rumah tangga berdua, sharing pemikiran dan pandangan berdua, berbagi peran berdua, hingga saat ini kami mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua juga berdua.

Keyakinan memang datang begitu saja yang saya rasakan, tanpa angin dan tanpa hujan, benar-benar bersifat instan. Tapi cinta, yang jauh lebih dalam dan menyenangkan, setiap hari tumbuh di tengah-tengah ikatan suci berupa pernikahan.

Personal note:
Ya intinya di atas lagi coba buat tulisan yang puitis dan deksriptif. Ingin berniat lebih rajin menulis, karena saya pribadi males kalau cuman nongol di instragram pake bahasa-bahasa romantis. Kalau tulisan bisa jadi karya yang lebih manis.
Untuk lembaran berikutnya, mungkin saya mau coba menjelaskan kehidupan rumah tangga. Peran seorang suami dan istri yang hidup bersama. Pandangan-pandangan langka untuk diceritakan kepada pembaca. Meskipun ga terlalu banyak yang baca, ya gapapa, siapa tau tetap bisa memberikan makna. Salam hangat dan selamat bekerja!

June 07, 2018

More Valuable

We have been taught a lot about giving charity (if you are moslem you would know the 2,5% formula, our income every months that should be allocated to someone in need). And by charity i meant money.

My Dad recently just taught me something similar, but so much more interesting. A social charity, not by giving money but giving something more intangible such as time, energy, effort, ideas, and so on. Something that most people avoid. They are actually being more rational because social charity would actually consume our resource much more than giving money.

Exhibit A:
A family member who has willingness to be the coordinator of family gathering, he has lots on his plate but takes it anyway. That is social charity.

Exhibit B:
An lower level employee who thinks effortly to find a solution in the middle of meeting, where he could actually sit and stay silent waiting until the end of session. That is social charity.

Exhibit C:
A daughter who drives a car to take her mother out of city just to make sure everything is fine and her mother is safe and sound. That is social charity.

Exhibit D:
A guy who who concentrate to listen to his other friend’s problem and be emphatic although he really want to go home and read his book. That is social charity.

Conclusion:
Giving money as a charity is great, but i believe that giving those above mentioned intangible things are way more valuable.